Jumat, 30 Desember 2011

Takdir Memutuskan Part 1

Part 1
Rumahku, yang terletak dipinggiran kota Jakarta ini, diapit oleh dua rumah mewah, rumah Nyonya Chum dan rumah Nyonya Jumi, kedua janda itu memiliki dua anak, anak yang amat mereka sayangi untuk terus mengingat sang suami. Jika kau berjalan keluar kompleks, pergi kearah timur sampai mentok, masuk kegang tanpa lihat-lihat, kau bisa kecebur got, tetapi jika kau melihat baik-baik, kau akan melihat sungai yang jernih, sungai itu ditutupi oleh kompleks sebelah yang beberapa rumahnya menghadap arah yang berlawanan, menghadap sebuah kali luas yang tercemar oleh pabrik mie ditengah-tengah kota.
Aku tak terlalu sering melihat Agustus dan Huma(anak Nyonya Chum) keluar rumah, apalagi Vie dan Randia(anak Nyonya Jumi), mereka tak pernah sekalipun keluar rumah, kalau mereka kehabisan sesuatu untuk memasak, mereka menelfon keluarga Nyonya Chum untuk membelikannya dan meletakannya didepan rumah Nyonya Jumi, di kotak pos akan tersedia tiga ratus rIbu rupiah untuk membayar Nyonya Chum, lain halnya dengan aku, aku lebih suka keluyuran kegang sebelah, atau kompleks sebelah, aku nggak pernah punya niat mengajak Agustus, Huma, Vie ataupun Randia main, aku sudah pernah melakukannya, tetapi yang dia jawab hanya satu kata, ‘tidak’. Dengan kasar mereka menutup pintu dan kembali kepermasalahannya, tak pedulitetangganya terseinggung atau tidak. Dibandingkan yang lain, aku lebih akrab dengan Nyonya Chum, selain dia berbeda dengan anak-anaknya, dia juga mudah bergaul, dengan pede dia ikut arisan Ibu-ibu.
Suatu hari, rumah didepanku terisi, sebuah truk memamerkan knalpotnya kearahku yang sedang bermain monopoli bersama Nyonya Chum – bahkan dia mahir bermain! Dengan sopan Nyonya Chum berdiri, berjalan kearah rumah itu untuk menyambut kedatangan tetangga baru, aku ikut membantu menurunkan barang, yang menempati rumah itu adalah seorang Ibu, Ayah lengkap dengan seorang anak perempuan yang sebaya denganku, namanya Biba, dia kurus dan tinggi, tetapi pipinya begitu chubby seperti pipi Nyonya Chum! Biba memelihara kucing anggora dan kelinci putih, rencananya mereka akan membuat sebuah danau kecil dan membeli bebek dan angsa, mereka benar-benar keluarga hutan! Biba sama sepertiku, mudah bergaul, baru beberapa hari dia sudah berani kekompleks sebelah untuk menemui teman-teman barunya, dalam catatan; SENDIRI. Biba ternyata telat sekolah, dia sekarang kelas 1 SMP sementara aku sudah 2 SMP, umur kami sebenarnya sama, sekolah kami juga sama, kini, aku mempunyai teman jika Nyonya Chum sedang pergi arisan – hahaha... jujur... aku lebih suka bergaul dengan yang chubby.
***
Hari Minggu tanggal 13 Agustus, tanggal ulang tahun Agustus Husein yang kelima belas, seseorang mengetuk pintu kamarku, kubuka pintu kayu itu, Biba tanpak dihadapanku, ditangannya, sebuah kotak hadiah terbungkus dengan kertas kado hijau, aku mengunci pintu kamar dan berjalan kearah dapur, sebuah kotak yang tak terlalu bagus-bagus amat kukeluarkan, kami berjalan keluar rumahku, kukunci pintu dan segera pergi kerumah Nyonya Chum. Rumah Nyonya Chum adalah sebuah kos-kosan bertingkat lima, rumah Nyonya Chum ada dilantai empat, lebih lengkap dan bagus. Beliau mengembangkan usaha ini semenjak dia pindah kesini, tepatnya tiga tahun yang lalu. “Oh, ya, Min! Sebenarnya sudah lama aku ingin tanya, cuma takut kau tersinggung...”kata Biba saat kami sampai diakhir anak tangga menuju lantai dua, “katakan saja.”kataku santai.
“Kok ortu-mu selalu nggak ada dirumah?”tanya Biba mempersingkat. “Rumahku dengan mereka terpisah,”jawabku. “Lalu, rumah mereka dimana?”tanya Biba. “Dua gang sebelum gang ini, kau tahu rumah Dave? David Husein? Saudara jauh Nyonya Chum?”tanyaku, Biba menganggukan kepalanya, “disebelahnya adalah rumah ortuku,”kataku. “Tapi kenapa? Lebih enak tinggal bersama, kan?”tanya Biba. “Aku yang minta sendiri, kok... Eh, itu rumahnya!”tunjukku keruangan nomor 45.
“Jarak antara pintunya dan pintu sebelahnya lebih jauh dibanding pintu lain,”cermat Biba, aku mengangguk, ruangan nomor 45 sengaja dibuat lebih luas. Aku mengetuk pintu cokelat itu dengan sopan, seseorang membukakan pintunya, Agustus, “sedang apa kalian disini?”tanya Agustus dingin. “Merayakan?”kata Biba dalam bentuk pertanyaan, aku menyikutnya, apa-apaan caranya bicara. “Kalau mau bertemu Ibu, Ibuku sedang tidur,”kata Huma dari dalam, aku melirik isi rumahnya, benar, sebuah cake sutera putih bertingkat tampak dimeja makan, beberapa balon dipasang, beberapa kado bertumpukan.
“Bolehkah, kami masuk?”tanya Biba blak-blakan, Biba menunjukan sebuah kotak hijau, “boleh,”kata Agustus, kami dipersilahkan duduk disofa biru ruang tamu, oh, ya... perlu kukoreksi, ini bukan kos-kosan, melainkan apartemen kecil. Aku menjabat tangan Agustus, “selamat,”kataku singkat, aku memberikan kotak hadiah berwarna merah milikku, Biba juga memberikan hadiahnya, “trims,”serobot Huma, gadis itu menyimpanya diatas meja, aku tahu, jika Huma nggak buru-buru menyerobot, Agustus pasti nggak akan bilang selintas kata terimakasih itu. “Boleh kami buka?”tanya Huma sopan, kami mengangguk, Huma membuka kado dari Biba, “blackforest! Itu kesukaan kami, trims!”kata Agustus mulai membuka mulut, Biba tersenyum, Huma membuka punyaku, “pai apel? Huuu... curang! Cuma kesukaan Agus dan Ibu!”rengek Huma, dia melempariku dengan secuil krim kocok dari kue sutera putih milik mereka. Kami mengobrol hebat, sampai-sampai Nyonya Chum terbangun dari mimpi indahnya, “ooh... kalian sudah datang?”gurau Nyonya Chum, “berhentilah berkata seperti yang ada dinovel-novel, Bu... Malu dilihat tamu,”kata Agustus, “oke, Gus!”
Pesta ulang tahus Agustus baru dimulai jam 3 siang, para kerabat dan beberapa tetangga datang, termasuk keluarga Nyonya Jumi, Biba dan aku menyambut mereka hangat, Nyonya Jumi adalah teman SMA Ibuku, mereka suka SMS-an jika ada waktu. Vie melihatku seperti orang gila, terlihat dari kelakuannya yang sering menyiritkan dahinya, beda lagi Randia, dia menganggapku seperti sesuatu yang... disgusting, menjijikan, kupel, kuper, caper dll. Buktinya? Dia selalu menjauh dariku, aku bingung! Aku sehari mandi dua kali seperti dia! Apa yang membuatnya jijik? Aku juga mengutarakannya berkali-kali dalam hati, “mulutmu!”tunjuk Randia, “mulutku kenapa?”tanyaku, “bau”katanya blak-blakan, tanpa ekspresi dia seperti baru saja melakukan telepati. Astagfirullah! Aku lupa gosok gigi pagi ini! Apa kata Nyonya Chum nanti!!?? Biba yang berdiri disampingku tertawa ngakak, “tuh, kan, benar! Ternyata kau beum gosok gigi pagi ini,”lanjut Randia, tunggu! Dia seperti benar-benar membaca pikiranku! “Memang benar, kok, aku membacanya,”kata Randia, eng-ing-eng-ing-eng! Dia alien! Atau lebih tepatnya... ng... mamalia?
“Aku bukan binatang,”kata Randia lagi, oke, aku nggak betah sama dia! Daripada dia membaca pikiranku lebih baik aku memikirkan hal lain yang tidak terlalu pribadi, cobalah yang umum seperti ‘wah, cake sutera itu bertingkat! Kayaknya lezat!’ atau ‘wah, rambut palsu Pak Suski merosot! Hahaha...’ atau mungkin ‘Pak Grim celananya murah banget! Disupermarket harganya lima belas ribu dua biji!’ apa gitu, kek!? “Nggak usah segitunya,”kata Randia, dia menjauhi diriku lagi, Biba memegang perutnya, semenjak mendapatkan kabar ‘mulutku bau’ dari Randia, aku memukul perutnya, dengan sedikit simpati aku memelankan laju kepalan tanganku, “ouuww...”jerit Biba, “apa yang kau lakukan?”tanya Biba setengah berbisik. “Apa? Jangan salahkan aku! Kau menertawakan aku! Kau kira aku nggak malu? Ini umum Bib... umum!”tegasku.
“Iya, deh... sori,”katanya, dia merangkulku layaknya saudara, Huma menghampiri kami, “mau ikut acara ‘tepuk-tutup’?”tanya Huma, kami sama-sama mendelik, “kami butuh dua orang bantuan untuk mencegah Agus memukul bingkisannya! Yang hanya perlu kau lakukan adalah menarik tali yang akan menggerakan bingkisan! Bagaimana?”tawar Huma, “kedengarannya... menarik?”kata Biba, lagi-lagi dalam bentuk pertanyaan, “memangnya, apa isi bingkisan itu?”tanyaku, aku lumayan tertarik, seumur hidupku setetangga dengan Huma dan Agustus, aku belum pernah sekalipun melihat mereka saling jahil, ternyata mereka melakukannya dibalik layar. “Sebenarnya, ada dua bingkisan!”kata Huma, “dua? Nggak menghambur-hamburkan uang, tuh?”tanya Biba lagi-lagi blak-blakan.
“Saat acara dimulai, kita ikatkan bingkisan yang diisi permen! Tapi waktu Agus sudah menutup matanya dengan kain yang berlapis-lapis, setelah dia hampir putus asa, kita ganti dengan yang isinya tepung dan air! Pada saat itu, kalian nggak usah menarik-narik tali, cukup biarkan bingkisan air-tepung itu berada ditengah-tengah, saat Agus tak sengaja menyentuhnya, dia akan memukulnya dan... BYUUURR!!!”jelas Huma.
“Tipuan membosankan,”kataku dan Biba berbarengan, “memangnya kalian punya ide lain?!”bentak Huma, kami hanya bisa menurut, aku memegang tali yang ada ditiang kanan, sementara Biba yang kiri, Agustus sudah menutup matanya sejak tadi, tampaknya dia menunggu cukup lama. “Tiga... dua...”Huma mulai memberi aba-aba, dia memberi isyarat padaku dan Biba untuk berseru ‘satu!!!’ saat jari telunjuk-tengah-manis dia angkat, telunjuk sudah diangkat, aku mulai bersiap-siap, tengah diangkat, sekali-kali Biba dan Agustus mulai nggak sabaran, Biba melirik Huma, memberi isyarat ‘cepetan!!!’ kepada Huma, perlahan... perlahan... seperti gerakan slow motion jari manisnya mulai terangkat, tapi masih belum lurus, yak... yak... itu... dia!!
“SATU!!!!!!”seru Biba heboh, suaranya menggema keseluruh ruangan, mulai dari kamar mandi hingga gudang, dari balkon ataupun ruang sebelah juga terdengar, aku memainkan taliku duluan, Agustus tampak lelah sekali, aku memberi isyarat kepada Huma untuk segera mengganti bingkisannya, Huma memanggil ‘Armada Angkatan Darat Dalam Pimpinan Huma’ miliknya, orang-orag itu segera menukar bingkisannya selagi Agustus duduk untuk mencari akal, aku dan Biba meletakkan bingkisannya ditengah-tengah, Agustus bangun, tanpa disengaja kepalanya menyentuh bingkisan itu, Agustus memukul bingkisan itu sambil mendongakkan kepalanya keatas, dan... dan... kau tahu, kan? Tidak! Kamu nggak tahu! Chi, yang kabarnya baru-baru ini menjadi kecengan baru Agustus sengaja lewat, BYUUURRR!!!! Jebakan itu mengenai Chi, Agustus membuka penutup matanya, dia menganga, “C... CHI!!!!!” jeritnya, “sori... sori... kalau tahu ini jebakan aku pasti nggak bakal memecahkan balon air itu, kok!”Agustus mengelapi Chi dengan sapu tangannya, Chi memegang tangan Agustus yang tengah mengelapi wajahnya, “nggak apa-apa...”katanya lirih, “ini kulakukan demi Agus, kok...”kata Chi memperhalus suaranya, Biba dan Huma saling pandang, mereka tersenyum licik.
“Ehem!”goda Biba, mereka berdua (Agustus dan Chi) kaget, ingat kalau mereka sedang ada didepan umum.
“Duh! Kok jadi panas, ya?”lanjut Huma licik, Huma dan Biba saling bersenderan.
“A... apa!? Berhentilah menggodaku Huma!”bentak Agustus, sebuah ide melintas cepat dari otak Biba. Sambil memegang tangan Huma Biba memerankan drama licik, “oh, Chi... sebenarnya... aku ini suka padamu...”kata Biba, Huma mengerti apa yang harus dia lakukan, “oh, Agus... aku juga... selama ini...”kata Huma disengajakan. “HEI!!”bentak para korban (Agustus dan Chi). “Ka... kami nggak pernah seperti itu, kok...”kata Chi, gadis tinggi nan dewasa itu mulai menyangkal, suasana menjadi hening, bahkan Nyonya Chum saja bengong, aku memetikkan jariku, tak ada seseorang pun yang bergerak, aku menampar Biba, dia terbangun, “eh? Ah? Kita dimana?”tanya Biba, “hoooiii... kita lagi dipesta ulang tahun Agustus!”aku mengingatkan Biba, “hah? Itu, kan, lusa!”kata Biba, mataku membulat, aku melihat arlojiku, aku memencet beberapa tombol, benar! Waktu seolah berputar! Hari ini menjadi tanggal 11 Agustus! Ada apa ini?
“Ini adalah masalah,”seru seseorang dari belakang, Biba menjerit ketakutan, dia bersembunyi dibelakang punggungku, sosok perempuan lahir diantara rasa tegang, Randia!? “Apa yang baru saja kau lihat sekarang, adalah masalah esok lusa,”jelas Randia, matanya terhalang oleh poninya, dia memerlihatkan matanya, dia melihatku tajam, membuatku terfokus, hatiku tertawan... oleh bola mata itu... SET!!! Tiba-tiba dia menunjukku.
“Kau diutus takdir!!! Untuk memperbaiki setiap masalah dimasa depan!!!”serunya, Biba menganga. “Eh?”

2 komentar: