Jumat, 30 Desember 2011

Takdir Memutuskan Part 2

Part 2
“Kau diutus takdir!!! Untuk memperbaiki setiap masalah dimasa depan!!!”seru Randia, Biba menganga. “Eh?”
“AAAAHHHH!!!!!”teriakku, aku ngos-ngosan, tanpa sadar aku sedang duduk dikasur, jeritan tadi mebuatku ingin terbangun dari tidurku, ada apa ini? Apakah cuma mimpi? Seseorang mengetuk pintu rumahku, dengan sigap aku membukakan pintu, Biba. Dia sepertinya tidak ingat apapun. “Ng... apakah kau ingat sesuatu? Tentang tadi malam?”tanyaku hati-hati, “ng... yang kuingat aku makan spageti sebelum tidur, itu saja!”jawab Biba, ukh, dia memang lupa, kepada siapa aku harus bertanya? Randia? Hii... mentalku belum besar untuk bertemu dengannya didunia nyata, didunia mimpi saja sudah gemetaran. “Hei, hei, hei! Katanya ingin sama-sama ingin bikin kue untuk ulang tahun Agustus besok lusa?”Biba mengingatkan, aku memang berjanji padanya pada tanggal 10 kemarin, “oh... oke...”kataku, kupersilahkan Biba masuk, “kau mau buat apa? Aku blackforest,”kata Biba, dia melepas syal dan meletakkan payungnya didepan pintu rumahku. “Pai a...”aku teringat sesuatu sebelum menyebut pai apel, Huma tidak suka pai, mungkin aku bisa membuatkan mereka cupcake cherry atau kue wortel. “Kue mangkok dan kue kecil,”jawabku, aku sudah beli bahan-bahannya, akan kutagih uangnya seusai pesta.”kata Biba, aku mengangguk, aku menyiapkan adonan dan membuatnya.
“Hei, kan, kalian sudah selesai bikin kue, bagaimana kalau kita main dirumahku?”tawar seseorang kepadaku dan Biba, kami saling pandang, mencari siapa yang menawari kami seperti itu, “hei, diatas sini!”kata perempuan itu, kami mendongakkan kepala keatas, Randia!!?? “KYAAA!!!”jerit Biba, spontan dia berlari menuju kamarku. “Hei! Ngapain kamu duduk diatas lemariku!?”bentakku, Biba melirik-lirikku dibalik pintu. “Tentu saja mengecek keadaanmu,”kata Randia, dia duduk ala wanita dewasa. “Y... ya... aku tahu itu! Tapi apakah tidak bisa lewat pintu dan mengetuk dengan sopan?”bentakku lagi.
“Nggak,”jawabnya santai, uu~h... benar-benar bikin emosi. “Apakah kamu nggak paham dengan apa yang barusan tadi kuucapkan?”sindirku.
“Nggak paham, tuh,”jawabnya lagi, tanpa ekspresi ataupun aba-aba dia menghilang, Biba seperti ingin pingsan, aku buru-buru menopangnya, waduh... ini nggak terjadi ditanggal 10 yang ada dimimpiku! Ini lebih berat dengan kehadiran Randia yang selalu mengecekku setiap menit! Biba sudah siuman setelah kuberi jurus ‘tamparan sinetron’ kepipinya, “APA-APAAN, SIH!!??? SAKIT TAU!!!!”jeritnya, dia balik menamparku, “hei! Karena aku kau siuman! Apakah kau tak punya sepatah kata terimakasih?”tanyaku sewot. “Tapi apakah nggak ada cara lain!? Siram air, kek?”balas Biba, aku menggeram aku pergi kekamar mandi, mengambil segayung air keran dan menyiram kepala Biba, “kamu, tuh, ngapain, sih? Kesel sama aku? Apa salah aku? Biar aku coba perbaikin!”bentak Biba. “Salahmu adalah kau nggak berterimakasih! Kau puas??!!”aku membalas bentakannya, urgh... ini malah menjadi lebih buruk dari pada dimimpiku! Seketika suasana hening, Biba seperti menjadi batu, aku menyentuhnya, seluruh badannya malah menjadi hancur, lho? Kenapa ini?
“Kau kuberi kesempatan untuk memperbaiki masa depan, tapi kenapa kau malah menghancurkan masa depan yang sebenarnya?”tanya Randia, tiba-tiba dia muncul disampingku, “Ran... dia?”aku terkaget-kaget, dia selalu seperti itu, tiba-tiba nongol, tiba-tiba hilang. “Kuberi kau satu kesempatan lagi,”kata Randia.
Aku membuka kedua kelopak mataku, lagi-lagi aku sedang terbaring dikasur, Randia tiba-tiba muncul, dia duduk diatas meja belajarku, “kau harus belajar, bagaimana memperbaiki masa depan,”katanya, dia menopang dagunya dilutut kaki kirinya, aku mengangguk, seperti kejadian tadi, seseorang mengetuk pintu rumahku, Randia menghilang. Dengan sigap aku membukakan pintu untuk anak yang kutebak pasti Biba, salah, itu Nyonya Chum.
“Maaf datang tiba-tiba,”katanya, “ng... nggak apa-apa, Nyonya! Silahkan masuk!”kataku sopan. Nyonya Chum duduk disofa ruang tamu, sofa hijau itu didudukinya. Aku duduk didepan coffee table yang ada didepan sofa yang Nyonya Chum duduki. “Mau minum apa?”tanyaku sopan, “kopi saja, jangan terlalu diberi banyak gula,”jawab Nyonya Chum. Aku kedapur sebentar untuk membuatkan kopi untuk Nyonya Chum. Aku kembali dengan sebuah nampan, diatasnya ada secangkir kopi Nyonya Chum dan secangkir teh india (teh campur susu) untukku. Aku meletakkan cangkir kopi Nyonya Chum dengan sopan. “Kenapa? Tumben datang kesini,”kataku. Nyonya Chum meletakkan selembar kertas diatas meja.
“Ini... undangan ke pesta ulang tahun anakku, Agustus Husein yang kelima belas,”katanya sopan, mataku membulat, ini, kan, terjadi tanggal 8 Agustus! Aku menerimanya dengan senang hati, setelah Nyonya Chum pulang, aku mengecek tanggal diarloji milikku, benar! Hari ini menjadi tanggal 8 Agustus! Randia tiba-tiba muncul. “Wah, kebetulan banget,”kataku sok ramah. “Kebetulan?”
“Aku ingin mencekikmu...”kataku sinis. Randia mendelik, “kenapa memangnya?”tanya Randia. “Harusnya aku yang tanya!”bentakku. “Apa yang seharusnya kau tanyakan padaku?”tanya Randia. “Kenapa kau dengan seenaknya mengundurkan waktu!?”bentakku. “Ini hakku,”kata Randia, “ya... ya... kau hebat! Kau bisa mempercepat waktu, mengembalikan waktu, kau bahkan bisa menghentikan waktu, semua hal itu sesukamu, tetapi jangan permainkan waktu! Sama saja kau mainkan manusi-manusi dengan jurus waktu-waktumu itu!”bentakku panjang. “Aku diutus takdir,”jawabnya santai, “takdir... takdir saja mulu!”kataku marah, “aku adalah orang kelima belas yang ditunjuk oleh takdir,”kata Randia, aku malas mengelaknya. “Disaat ulang tahun Agustus yang keenam belas, orang itu akan berganti, menjadi orang yang kupilih menjadi orang yang akan memperbaiki masa depan,”jelasnya, mataku membulat, mulutku terbuka, tak bisa ditutup. Itu berarti... aku?
“Ja... jangan bercanda!”kataku. Randia menggelengkan kepalanya, “aku nggak bercanda...”katanya, dia menunjukku.
“Kau yang akan mempermainkan waktu selanjutnya!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar