Part 3
“Kau yang akan mempermainkan waktu selanjutnya!!!”seru Randia, tidak... aku tidak mau seperti Randia, ya mempermainkan waktu seenaknya demi masa depan yang cerah. Kalau kegagalan adalah takdir kita, yasudah... memang itu takdir kita, dalam catatan; YANG SEBENARNYA.
“Memangnya siapa orang-orang yang sudah ditunjuk itu?”tanyaku, “sebelu aku, adalah Ayahku,”katanya, apa? Jadi kekuatan yang diwariskan? “Sebenarnya yang ingin kutunjuk adalah Vie, tapi...”kata-katanya kuambil alih, “pasti dia menolak?”tebakku. “Tidak, aku belum menanyakan padanya,”kata Randia. “Tetapi Ayah melarangnya,”kata Randia, “bagaimana caranya? Ayahmu, kan, sudah meninggal!”kataku.
“Ayah pernah menunjukan padaku masa depanku,”Randia mulai bercerita, “Ayah memperlihatkan kalau Vie malah main-main, misalnya, dia menghentikan waktu saat ulangan untuk mencontek temannya yang paling pintar,”jelas Randia, aku manggut-manggut. “Oh, ya... ada yang lupa untuk aku katakan,”kata Randia. “Apa?”tanyaku. “Jangan menunjuk orang yang kau sayangi untuk menjadi orang yang selanjutnya,”kata Randia. “Memangnya kenapa?”tanyaku. “Karena orang yang kau tunjuk itu...”
“Akan mati setelah dua tahun dia menjadi pemain waktu...”
Mataku membulat, berarti umur Randia hanya tinggal satu tahun lagi? Sementara aku tiga tahun? “Tapi kenapa Ayahmu memilihmu jika kau akan mati segera?”tanyaku penasaran. “Ayahku tidak tahu,”kata Randia, “setelah Ayahku meninggal, aku menyelidiki masa lalu dan melihat akibat itu,”jelas Randia, aku termurung.
“Berarti, aku adalah satu-satunya orang didunia ini yang kau tidak sayangi?” tanyaku. Randia menggeleng. “Aku melihat kemasa depan,”kata Randia, dia tersenyum manis.
“Kaulah orang yang tepat,”kata Randia, kata-kata itu seperti... pujian?
“Kau adalah satu-satunya orang yang akan mengelak, kau tidak mau, kau merasa keturunan kami adalah keturunan yang paling menyebalkan, sinting, gila, egois dan mungkin juga munafik. Kau tidak mau mempermainkan waktu seperti kawan-kawanmu, juga tidak seperti Vie, aku, kau, ayahku dan suami Nyonya Chum menurutku adalah manusia yang langka,”kata Randia. “Tunggu! Suami Nyonya Chum?”tanyaku heran.
“Dialah yang menunjuk Ayahku,”jawab Randia. “Tetapi dia sepertiya sedikit berbeda,”kata Randia, “beda? Dia dan kita, kan, sama! Sama-sama manusia,”kataku. “Bukan itu maksudku.”
“Dia menunjuk Ayahku untuk membalaskan dendamnya kepada Ayahku,”kata Randia manis. “Dulunya, Tuan Rood menyukai Ibu kandungku,”kata Randia, “Ibu kandung? Jadi Nyonya Jumi adalah orangtua angkatmu?”tanyaku, Randia mengangguk, “Ibuku, Silva, menunjuk Tuan Rood sebagai orang sebelum Ayahku, dan Ibuku meninggal, Tuan Rood merasa Ayahku, James tidak mengurus Ibuku dengan baik, maka ditunjuklah Ayahku sebagai orang yang berikutnya, Ayah menunjukku sebagai bukti kasih sayangnya terhadap aku dan Ibu, meskipun dia tidak tahu dampaknya, sementara Tuan Rood menyelidiki lebih dalam sepertiku dan memanfaatkan kesempatan yang dianggapnya begitu berharga. Aku mengatakan kepada Ayah, kalau Vie harus menjadi yang selanjutnya, tetapi Ayah berkata, ‘selidiki dulu masa depan bumi, jika Vie kau tunjuk,’ begitu katanya, dia menuntunku menuju masa depan, dan memperlihatkan padaku Vie yang masih kekanak-kanakan kutunjuk...”Randia berhenti sebentar untuk mengambil nafas.
“Aku menyadari Vie bukan orang yang tepat, maka, saat aku sudah menjadi pemain waktu, aku menyelidiki masa depan lebih dalam, dan kutemukan bahwa kaulah orangnya,”kata Randia, “tetapi, kenapa harus berdasarkan ulang tahun Agustus?”tanyaku. “Dalam dunia pemain waktu, Agustus adalah dewa.”ha? Dewa? Beneran dewa-nya D-E-W-A???? “Saat Agustus lahir, Ibuku ditunjuk oleh takdir, tiba-tiba dia jadi bisa membaca pikiran orang, berteleportasi, menyembuhkan orang dengan sekali sentuh, melihat masa depan dan yang lainnya.”Kata Randia.
“Dalam dunia pemain waktu, Agustus adalah Dewa Waktu, para pemain waktu akan meninggal jika Agustus sedang dalam usia genap, Agustus juga bisa mengendalikan waktu, tetapi dia belum menyadarinya, disaat dia sadar, semua pemain waktu akan musnah,”kata Randia, “apa maksudmu dengan musnah?”tanyaku.
“Jasad, makam, juga memori-memori keluarga tentang kita akan tiada, tak ada bukti jika kita lahir, semuanya akan hilang, kita seperti tetangga baru yang menjumpai orangtua kita sendiri,”kata Randia. “Satu-satunya cara agar Agustus mengetahuinya adalah dengan bertemu pemain waktu secara langsung, memberitahu-nya, dan menjadikannya pemain waktu yang terakhir, tetapi dia tidak akan meninggal sampai waktunya dia meninggal,”kata Randia, “semua pemain waktu tidak mau melakukannya, karena mereka tidak akan diingat oleh kedua orang tua, kau adalah harapan kelima takdir dan Ibuku,”kata Randia, “Ran...”kataku, “ng?”tanya Randia, “kenapa tidak kamu saja?”tanyaku. “Apa?”tanya Randia kaget. “Vie adik tirimu bukan?”tanyaku, Randia mengangguk.
“Kau sudah tidak punya orangtua, yang kau punya adalah dua orang yang berbeda ikatan darah denganmu, tidak mungkin Ayah dan Ibumu yang sudah menjadi mantan pemain waktu akan melupakanmu,”kataku, “Vie bukan anak Nyonya Jumi,”kata Randia, “dia adalah kenang-kenangan dari Ibu, aku tak mungkin membiarkannya menjadi amnesia tentang diriku,”kata Randia.
“Saat Ibu masih hidup dan terkena penyakit keras, sebagai kenang-kenangan dia menyuruhku mengangkat seorang anak menjadi saudari tiriku, kupilih Vie, Vie adalah satu-satunya ikatanku dengan Ibu,”kata Randia, aku begitu terharu, dibalik wajah Randia yang agak egois dan semaunya, dia mempunyai masa lalu yang mengharukan. “Maka, kalau kamu rela semua orang yang masih hidup tidak mengingatmu kembali, kami mohon... buatlah kau menjadi pemain yang ditunjuk takdir yang terakhir...”kata Randia, aku menelan ludah, aku seperti dimintai tolong oleh empat orang, Ibu Randia, Suami Nyonya Chum, Ayah Randia dan Randia pastinya, dan satu lagi, suatu zat yang sangat ingin mengakhiri permainan waktu.
“Kalau aku sanggup, pasti,”kataku, Randia menangis haru, dia memelukku erat, aku menenangkannya, mengingat kasih sayang orang tuaku kurang, aku menjadi ingin menjadi pemain waktu yang terakhir. Tanpa kami sadari, seseorang menguping dari tadi, orang yang mengincar menjadi pemain waktu selama-lamanya.
“Tidak akan kubiarkan... kau mengakhiri permainan ini...!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar