"Mao..."seseorang mengguncang-guncang tubuhku, "Mao bangun!"katanya, aku membuka mata, "ngh... ada apa?"tanyaku, aku menguap lebar dan mengangkat badan, "temanmu sudah menunggu,"katanya, dia kakakku, Suguru, "ya...ya... baiklah, suruh dia masuk kekamarku selama aku bersiap-siap,"kataku sambil beranjak dari kasur, kubuka lemari bajuku, kuambil baju panjang sepaha dengan turtle neck dan lengan sesiku, celana jeans dan stocking, tak lupa pakaian dalam, aku langsung membawa semuanya kekamar mandi ditambah handuk.
"Zreeeshh..."kunyalakan keran air shower, air-air itu langsung menghujani diriku dalam sekejap, bahkan sedetik, seusainya aku memakai semua pakaian itu didalam kamar mandi, yah... temanku kan ada dikamarku, mana bisa aku pakai baju disana?
Kubuka pintu kamar mandi dengan pakaian rapi, aku melihat kearah sarpet bulu didepan kamar mandi, aku mendongakkan kepala untuk melihat sosok temanku itu, "wah...wah... baru bangun lagi, ya?"tanyanya, "lainkali pasanglah alarm! Aku sudah menunggu lama,"ejeknya, "tutup mulutmu Rute!"bantahku, dia mendelik, "namaku Teru bodoh!"balasnya, ukh... dia temanku, Teru, yang baru-beru ini memerasku karena tahu rahasiaku, yaitu pemenang koki handal misteri.
"Kau sudah buat bekalnya? Aku lapar sekali!"keluhnya, "bekal itu untuk kita piknik lagi, sesuai permintaanmu, aku buat telur goreng, nasi kepal, sushi, okonomiyaki, bola daging, popcorn manis, dan roti bakar plus selai, aku juga sudah beli dua porsi oktoberferst dan cola,"jelasku sambil mengepak tas, "bagus...bagus..."dia menepuk tangannya dua kali, "ayo berangkat!"aku menarik tangannya keluar kamarku, "hei... apa?"
"Berangkat! Kamu mau mencicipi sushi buatanku, kan?"aku menariknya menuju halte bus, aku menuju ke loket tiket sementara Teru menuju kegerai kopi.
"Jurusan bukit Tember Hill, untuk dua orang,"kataku, petugas loket pun memberi dua tiket bis, aku berjalan menjauhi loket dan berlari menuju tempat menunggu, Teru yang telah selesai membeli cokelat panas dan cappucinno latte pun menghampiriku, "ini, cokelat panas,"dia menyodorkansatu gelas plastik cokelat panas, kutunjukan senyum terbaikku, "terimakasih, akan kubayar dengan bekalku nanti,"kataku sambil menerima gelas itu. Wajah Teru memerah, aku meliriknya, "kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu?"tanyaku sambil mengecek tas, "tidak, semuanya berjalan lancar,"
"Ping... pong..."
"Ah, itu belnya, bisnya akan segera datang, kalau kau mau membeli sesuatu bergegaslah,"usulku, dia mengangguk dan berlari menuju gerai bunga, "gerai bunga? untuk apa?"tanyaku dalam hati. "Lho, Mao?"sapa seseorang, aku menoleh, "eh, Dav, kenapa?"balasku, "aku dan Daniel akan pergi piknik ke Tember Hill, mau ikut?"tawarnya, "eh, aku juga akan kesana dengan temanku! Apa sekalian bareng ya?"usulku.
"Mao! Maaf lama..."kata Teru yang baru kembali, "ah, hai!"sapa Dav, Daniel juga menghampiri adik laki-lakinya itu, "hai Mao!"sapanya, aku tersenyum sambil melambaikan tangan, "ping...pong..."bel berbunyi lagi bertepatan saat bus berhenti didepan halte, "ah, itu bisnya! ayo!"seruku sambil menarik Teru lagi, aku menaiki tangga bis dan menyerbu kursi yang bisa duduk berdua, "mau minum cola?"tawarku, "tidak, berikan saja aku kantong muntah,"jawabnya jujur, aku tersenyum dan memberinya sebuah kantong dari karton, dia menerimanya.
Bis mulai berjalan, Teru mulai bersiap dengan kantong muntahnya sambil bergemetar, "ngh... Mao..."kata Teru, aku angkat kepala, "ah, nggak jadi,"katanya sambil memegang perutnya, ia merunduk, bis semakin lama berjalan dan mendekati area halte bis di Tember Hill, "hai, ayo!"kataku membangunkan Teru, dia terbangun dan melihat keluar jendela, kami sudah sampai, semua penumpang langsung turun, aku dan Teru juga begitu, kami tidak ingin menginap disana, kami berjalan menuju loket penyewaan tanah(maksudnya area).
"Minta arean couple,"kataku, ia menyerahkan dua tiket padaku, kuberikan satu untuk Teru, "2-A... 2-A..."kataku sambil mencari-cari area yang dimaksud sampai kami menemukannya, aku menggelar tikar dibawah pohon rindang dan meletakkan tasku, Teru melepas sepatunya dan duduk, aku juga demikian, , "ini, sushi,"kataku sambil menyodorkan kotak bekal, dia menerimanya, "ah, Mao..."katanya sambil mengunyah-nguyah makanan, "ya?"
"I... ini...!"katanya, ia sodorkan bunga daffodil yang tadi ia beli, "hah? untuk apa?"tanyaku heran, "maaf telah memerasmu, tapi..."kata-katanya terputus.
"Aku hanya ingin punya teman! Maka itu, dengan ungkapan ini, maukah jika kita berteman sungguhan? Bukan teman peras?"tawarnya. Aku tersenyum menyanggupi. "Dengan senang hati!"jawabku tulus, wajahnya sumringah dan kembali memerah, ah, cerita ini dimulai dengan pahit, tapi akan menjadi manis jika kau mengakhirinya dengan teman sambil berbagi bekal !
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar